Setelah menenami seorang teman
berfoto-foto ria di Singapore selama 3 hari 2 malam, maka memasuki hari pertama
di bulan February 2018 kami melanjutkan perjalanan ke Johor Bahru Malaysia.
Inimerupakan ke-empat kalinya saya
menjejakkan kaki ke negeri jiran Malaysia, 2x di Kuala Lumpur dengan
penerbangan Malaysia Airlines dan Garuda Indonesia. 1x di Johor Bahru sekedar
menikmati Teh Tarik di negeri asalnya ketika saya stopover di Singapore dengan
penerbangan Singapore Airlines. Nah ke-4 kembali saya ke Johor Bahru – bukan
sekedar melipir untuk menambah stempel pasport, tetapi kami menginap 1 malam di
hotel yang berlokasi di Johor Bahru Malaysia.
Perjalanan Raffles Place – Johor Bahru Sentral City
Sekitar pukul 10an pagi kami berdua
naik MRT dari Raffles Place menuju Kranji MRT Station. Sebelumnya kami
melakukan top up EZ-Link yang kami miliki. Setidaknya jangan sampai nge-pas
deh, maka kami masing-masing melakukan top up SG $ 10. Saya kurang
memperhatikan berapa jumlah yang berkurang setelah menempuh perjalanan dari
Raffles Place hingga Kranji. Setibanya di Kranji (station MRT yang sangat biasa. Lebih kerenStasiun CL Pasar
Minggu Jakarta...bangga sama negeri sendiri ah!) kami menunggu bis menuju
imigrasi Malaysia. Dari situ kami tidak melanjutkan perjalanan dengan bis
tersebut, karena hotel kami terletak di area ini.
Untuk kedua kalinya saya bermalam
di sebuah hostel di Singapore. Jujur saja, sebenarnya saya merasa tidak nyaman
menginap di hostel. Namun saya juga merasa "tidak tega" mengajak
teman saya sharing di hotel Singapore yang rate perkamarnya rata-rata diatas Rp
1 juta/malam. Memang masih ada hotel di daerah Geylang yang memiliki roomrate
tidak berselisih jauh dari hostel, tapi sebisa mungkin saya menghindar dari
kawasan tersebut karena ada beberapa pengalaman buruk yang terjadi di daerah
tersebut dialami oleh kenalan-kenalan saya dan pengalaman tersebut berdampak
buruk ke psikologis anaknya dan lansia yang mereka ajak juga. Apalagi teman
saya mengatakan,"Gue percaya sama elo, An karena loe biasa ke Singapore.
Dan gw yakin loe gak akan milih hotel di daerah Bang X dan keluarganya ngalamin
kejadian yang nggak ngenakin."
Yang akhirnya sempat saya
sahutin,"Gue emang udah belasan kali ke Singapore, tapi selalu stay di
hotel minimalberbintang 4." :D
Setelah jelajah sana sini melalui dunia maya, akhirnya saya memutuskan untuk
memilih Quarters Hostel di kawasan Clark Quay sebagai penginapan kami selama 2
malam. Kami memilih privat room dan melakukan transaksi melalui e-commerce
wisata dan lifestyle.
Source : FB Quarters
Kenapa Saya Memilih Daerah Clarke Quay?
Karena beberapa tahun lalu saya
pernah jalan-jalan di arena ini bersama kakak, kakak ipar, keponakan, adik
kakak ipar, adik ipar kakak ipar dan keponakan kakak ipar (Hahaha, mulai ribet
nih silsilah! :p) . Seingat saya, ketika itu wisata kuliner dan hiburan-nya
asyik sekali di area ini. Pengalaman juga dahulu menyusuri Singapore River
dengan kapal airyang melintasi area
ini. Foto saya di Singapore River Cruise sedang melintas di patung Merlion ada
tuh, tetapi nggak bakal saya tayangkan ke public area karena saya belum
menutupi rambut kepala...hihihi...
Kenapa memilih daerah Clarke Quay
juga karena lokasinya berada di downtown Singapore. Ke Merlion Park dan
Raffless Palace cukup berjalan kaki. Secara teman saya berniat ke Singapore
“sekedar” berfoto-foto...hahaha, jadi saya pilih lokasi yang sangat strategis.
Tulisan ini saya tulis sebelum
Ibu saya meninggal dunia pada tanggal 29 January 2018. Cerita ketika saya
merancang perjalanan ke Singapore dan Johor Bahru Malaysia. Dari pengalaman ini
saya “kapok” membeli tiket promo atau penginapan berdiskon yang tidak bisa
refund/reschedule. Kenapa? Mungkin di akhir tulisan ini dapat diketahui mengapa
saya kapok membeli beraneka dengan “harga khusus”...
Tiket pesawat Cengkareng –
Singapore – Cengkareng dan penginapan selama 4 malam sudah terkonfirmasi dan
terbayar!
Berawal saat saya dan Erny, teman
semasa kuliah di UI yang semula berniat ketemuan di Gramedia untuk membayar
starter kit Oriflame ternyata malah tercetus untuk jalan bareng keluar negeri.
Latar belakangnya simple banget, yakni pasport kami di tahun 2017 tidak
terstempel dari imigrasi negara mana-pun juga. Yo wis-lah, pilih negara yang
dekat aja untuk kasih stempel ke pasport...hahaha...Awalnya Erny minta kita ke
Turky aja, tetapi uhuk anggaran saya belum sampai ke Turky aaah...Masih ada
keperluan lain. Lagipula kalau niat ke Turky atau negeri Eropa lainnya harus
direncanakan jauh bulan sebelumnya. Sedangkan Erny minta kami pergi bulan ini
juga, malah kalau bisa minggu depan – mumpung dia lagi bisa mengajukan cuti dan
kedua anaknya lagi nggak perlu ekstra perhatian. Kalau bulan depan salah satu
anak-nya harus sudah mempersiapkan ujian akhir, jadi dia harus mendampingi.
Selain itu sang suami sudah mengatakan bahwa ada anggaran untuk jalan-jalan
keluar negeri, tapi suaminya pasti lagi sibuk kerja jadi nggak bisa nemenin
plesiran keluar negeri. Eeeh, sekitar 3 jam dari ketemuan di Gramedia Matraman
itu, Erny kirim text dan foto pasport beserta bukti transfer uang ke rekening
saya untuk membeli tiket dan penginapan.
Mendadak jadi “travel consultant”
deh nih. Erny tidak menjelaskan detail mengenai travel style yang ia inginkan,
ketika saya tanyakan ia hanya menjawab,”Terserah elo deh, Na. Gw percaya sama
loe aja, khan elo yang pengalaman jalan-jalan disana...” Yeeey, emang sih daku
udah pengalaman banget ke Singapore, tetapi khan selama berkunjung ke Singapore
saya menggunakan fasilitas travel yang...penerbangan full serviced (Singapore
Airlines atau Garuda), hotel berbintang 4 – 5 (Pernah sekali bintang 3), makan
di restaurant full AC dan transport selain MRT, saya nggak segan membayar taksi
jika nggak mood naik MRT. Baiklah, daku akan membuat travel planning dengan
standard yang sedang-sedang saja...hahaha, pokoknya yang masih terjangkau tapi
nggak cari “susah”!
Source : Jetsrar
Penerbangan Jakarta – Singapore
Sebelumnya jika ke Singapore saya
selalu menggunakan penerbangan full service (Hanya yang di tahun 2012 saya
menggunakan JetStar yang bersyukurnya ontime dan cabin-nya banyak seat kosong.
Masih dapat roti dan air mineral juga. Tahun 1995 pernah juga naik airlines Sempati
yang sekarang sudah tidak beroperasi) . Kali ini saya mencoba LCC deh – apalagi
saya belum pernah menggunakan penerbangan Air Asia. Penasaran, pengen coba...
Bersyukur jam yang cocok penerbangannya memang Air Asia yang estimasi time
arrival-nya jam 14. Berarti khan pas siang, dan nggak kesorean. Begitu sampai
di Singapore kondisi masih terang dan saya juga bisa mencoba naik MRT dari
Changi ke penginapan/tengah kota. Selama ini saya selalu naik taksi atau
airport transfer dari pihak hotel jika ke tengah kota/hotel.
Pulangnya saya pilih penerbangan
Singapore – Jakarta dengan airlines JetStar yang departure time-nya pukul 11.
Nggak terlalu pagi dan nggak terlalu siang.
Untuk kedua penerbangan saya
tidak melakukan pembelian bagasi dan tidak juga membeli polis asuransi. Hanya 4
malam, jadi saya pikir bawaan kami tidak terlalu banyak-lah, masih bisa
ditampung cabin. Lagipula selama ini saya nggak pernah tuh beli bagasi, karena
penerbangan saya selama ini memperbolehkan menitip bagasi seberat 20 – 30 kg!
Pernah lebih dari segitu, masih nggak dikenakan pembayaran
tuh...hihihi...jangan ditiru perbuatan bodoh yang saya lakukan seperti cerita
saya disini : Luggage Terbatas?!...Nggak Deh!
Total yang harus kami berdua bayarkan untuk pembelian tiket pesawat
Jakarta – Singapore PP adalah Rp 2.282.396 ,-
Saya akan ke Singapore kembali
ke sekian kalinyadi bulan January –
February 2018 . Kali ini berangkatnya bareng rekan kuliah di UI Depok dahulu,
dan kami pernah sama-sama 1 kost-an di daerah Kukusan Beji Depok. Ia belum
pernah ke Singapore, makanya saya kebagian tugas sebagai travel
advisor...hahaha...padahal terakhir ke Singapore bulan Oktober 2012. Sudah lama
bangeeet...Itupun bukan saya yang mengatur perjalannya karena ngikut aja sama
keluarga kakak.
Sebelum pergi ke Singapore, saya
suka nulis-nulis seperti goresan ini – yang tahun 2010 sih asyik-asyik aja
karena semuanya diatur oleh Panorama Tours.
Kunjungan ke Singapore nanti,
kami tidak berniat masuk ke Universal Studio Singapore karena teman saya ini
nggak suka permainan yang memacu adrenalin. Berbeda dengan
saya...hehehe...Untungnya tahun 2010 saya sudah masuk ke Universal Studio.
Ceritanya saya rangkum di bawah ini. Ketika saya dan Galuh berkunjung ke
Universal Studio.
Beyond Imagination : Kegembiraan di Universal Studio Singapore
Pecinta theme park dan filmtentunya
pernah mendengar nama ini. Universal Studio Singapore (Biasa disingkat
USS) merupakan theme park
film pertama di Asia Tenggara. USSmenjadi salah satu andalan Singapore untuk menarik wisatawan Asia
Tenggara, terbanyak dari Indonesia!
Kunjungan pertama saya ke USS
saat awalberoperasi di tahun 2010. Pada
tulisan ini saya bercerita tentang kunjungan pertama ke USS yang hingga saat
ini masih menjadi satu-satunya Universal Studio di Asia Tenggara.
Saya bermimpi ke theme park movies sejak Maret 2010. Ternyata
impian itu mewujud dalam waktu singkat padahal dana untuk liburan saat itu hanya
cukup untuk liburan ke DUFAN. Beryukur saya memenangkan ‘Essay Writing Contest ‘Share Your Unique Experience in Mal Kelapa
Gading’ yang hadiahnya adalah Tour
Package to Universal Studio Singapore for 2 persons.
Awal tahun 2018 saya sudah
membuat resolusi, masih ada resolusi khusus lagi nih – tepatnya harapan yang
harus diputuskan untuk terlaksana kembali di tahun 2018. Lah resolusi lagi
dong?! Apapun namanya terserah deh, tetapi yang pasti saya harus ikhtiar untuk
mewujudkannya.
Harapan ini adalah harapan saya
di dunia traveling, yakni tekad saya untuk berkeliling dunia kembali seperti
masa lalu. Loh katanya harus move on dari masa lalu kalau kita ingin terus
bahagia? Iyes, ini khan rencana masa depan, dan masa sekarang serta masa depan
saya harus lebih baik dari masa lalu. Alhamdulillah masa lalu saya oke banget,
hanya merasakan babak belur oleh perbuatan seseorang yang kini sedang menerima
segala perbuatannya. Karena dia saya stop keliling dunia setelah ¾ dunia saya
telusuri. Eeeeh stop ngebahas hal ini, toch saya sudah memaafkannya dan
menerima hasil dari Allah Swt yakni segala rezeki baik dan keberuntungannya
dialihkan kepada saya. Lebih baik begitu khan daripada dia harus bayar di
akhirat? Ihiiiy.... :D
Tahun 2016 saya sudah
memperpanjang pasport. Untuk kesekian kalinya memiliki pasport, namun 2017 saya tidak dapat
kesempatan plesiran ke luar negeri. Bukan masalah dana karena saat itu dana
tersedia, tetapi ....ya gitu deh, rezeki khan bukan soal dana saja bukan?
Masalah waktu yang belum mengizinkan saya plesiran keluar negeri.
Alhamdulillah, tahun 2015 – 2017 saya keliling beberapa daerah di Indonesia.
Seperti tekad saya bahwa saya berkeliling dunia harus benar-benar menyusuri
semuanya. Sejak tahun 2016 saya juga bertekad untuk “Tour of The Mosque” ,
melaksanakan shalat di setiap masjid di dunia. So kalau ada pertanyaan berapa
propinsi yang pernah kamu datangi? Maka akan kita jawab pasti : 34 propinsi di
Indonesia telah saya datangi. Nggak terlalu istimewa, namun saya akan bertanya,”Berapa
masjid di dunia ini telah kamu kunjungi dan kamu shalat di dalamnya?” hhhhmmm
bukan berarti berlomba-lomba jumlah masjid (tempat ibadah) yach,,,karena apalah
arti shalat hanya untuk “memecah record” duniawi. Tetapi Sang Guru – Bapak Ary
Ginanjar Agustian mengatakan pada saat saya mengikuti trainingnya di Menara 165
bahwa,”Perjalanan terjauh adalah perjalanan ke dalam hati kita...” Nah, di
dalam masjid itu saya bisa melakukan perjalanan ke dalam hati. Dah ah, ntar
terlalu dalam ngomongnya....
Kini saya ingin merekap aneka
tugas dari keponakan-keponakan saat mereka berkunjung ke berbagai negeri. Keluarga
besar saya di tahun 2015 – 2017 pada plesiran keliling dunia. Bahkan mereka
sering bertemu tanpa sengaja di airport dengan tujuan berbeda...hahaha....
Nah, ini sebagian “tugas” mereka
untuk saya. Saya pikir ini oleh-oleh terbaik dari kerabat atau teman yang
bepergian ke suatu tempat. Daripada meminta oleh-oleh yang memberatkan mereka
dan menimbulkan mental miskin pada yang meminta oleh-oleh, lebih baik kalian minta didoa-kan agar dapat
berkunjung (kembali) ke tempat-tempat tersebut.
Tokyo Motor Show 2017
Sebelum move on total dari 2017
,maka saya kumpulkan dulu yang tercecer dari tahun kmrn. Maklumlaaah, pasport
yang udh diperpanjang di thn 2016 terpaksa menganggur tanpa stempel imigrasi
negara manapun di thn 2017. Keluarga besar malah ngider2 keliling dunia nyata,
saya sibuk ngider2 dunia maya....bahkan kmrn mau ke Dunia Fantasi(Dufan) aja
urung dilaksanakan. Dufan aja blm sempet, gmn Tokyo Disneyland yg t shirtnya
pernah kami pakai? Saat itu saya masih SMP en Ibu saya yg ngider2 ke Tokyo
Disneyland bareng rombongan tour. Kami ditinggal oleh Ibu yg
piknik...huuaaa...gpp sih krn kita dpt oleh2 segambreng. Dulu mah belum kena
pajak
Thn 2017 keponakan saya ini, yg
pertama kali naik pesawat terbang ke Semarang dibayarin Ibu saya (Maksudnya utk
ngangkat2 tas kali ya? hehehe ), bulan Oktober 2017 berangkat ke Japan. Tugas negara
siiih, tp sbg Youtuber automotifproduktif, nih anak menyempatkan mampir ke Tokyo Motor Show 2017. Daripada
nitip oleh2 yang pajaknya aja bikin ehm ,lebih baik Eike tugasin lagi bikin
inih...hahaha...tetapi dia nggak mau muka en namanya terekspose. Maklum dah,
youtube-nya yg perbulannya sudah menghasilkan belasan juta perbulan aja gak
menampilkan wajah en body dia. Waktu daku mau bikin video di bianglala Aeon
Cakung, dia sempet bilang,"Waduh,ntar tampang kita ada di youtube-nya Ance
deh...pdhl tampang saya aja gak ada di youtube saya loh!"
Oke deh di foto ini cuma ada
jempolnya di Tokyo ...Eh dari sini dia bisa beli mobil baru CASH loh...ngumpulin dr
setahun nge-yutub yach,Bro? En daku sudah nyoba mobilnya disetirin ke Cakung en
ditraktir naik kincir.
31 Desember 2017, keponakan
bungsu saya berangkat ke Jepang juga, tetapi gak saya tugasin bikin ini...Ntar
aja tugasnya deh, ngajak saya ngider2 naek pesawat terbang disetirin dia ✈
Aamiin...* eh udah boleh khan yak tahun 2018 bawa penumpang?
Segera Maha Pengabul doa
memberikan jalan kepada saya untuk mewujudkan impian dan “ramalan” tersebut
dengan diumumkannya acara : The Global 50th Anniversary Cruise Oriflame Sweden
dengan kapal pesiar berkelas bintang 6. Mewah??? Pasti! Bahkan dengan cara ini
kalian – selama memiliki impian yang besar juga dapat turut serta dalam pesiar
ini. Siap??? Mari kita sukses besar bersama.
The Global 50th Anniversary Cruise Oriflame Sweden : Turky - Italia - Yunani
Bertempat di sebuah tempat makan daerah Kebayoran, Torino Osteria Italiana, European Union in Indonesia mengadakan Blogger Gathering. Saya sebagai pecinta benua biru ini tentunya tidak mau melewati acara tersebut. Saya lebih memilih hadir di event ini daripada mengerjakan tugas wawancara dari tempat saya bekerja - uang mah mudah didapatkan setiap ari namun event tertentu tidak selalu ada :)
Bloggers : Hayo, bisa nebak mana saya dan Owien?
Saya hadir bersama Owien pukul 14.15. Acara dibuka oleh MC tepat pukul 15. On Time! *Secara gitu salah satu pembicaranya adala Mr.Colin Crooks, Wakil Duta Besar Eropa untuk Indonesia, Brunei Darusalam dan ASEAN (Mohon koreksi apabila ada yang harus dibenarkan :))
Sekejap, sekitar 5 menit video diputar : "Europe/Whenever You Are Ready."
Sebagai Pembicara pertama adalah Mr.Colin Crooks yang memberikan informasi mengenai acara "Destination Europe Travel & Culture Fair". Pada acara tanggal 18-19 October 2014 akan hadir 24 negara anggota Uni Eropa yang menyugukan 50 acara pameran dan pertunjukan seni budaya, info beasiswa, kuliner, travel agent, dan hiburan lainnya. Akan ada juga pengundian 8 tiket penerbangan ke Eropa!*cihhuuuuy*
Platinum Sponsor acara ini adalah : Lufthansa, AirFrance, KLM. Gold Sponsors : Mandiri, Turkish Airlines. Silver Sponsors : Lafayete, Telkomsel, Lego, Diageo, Bag's City.
Kebayang seru deh acara-nya. Diselenggarakan di : Balai Kartini Jakarta.
Pembicara berikutnya adalah : Marischka Prudence, Travel Blogger/Writer serta Bunga Manggiasih (Namanya susah banget dibacanya untuk orang Belanda ya?Gimana waktu kuliah di Belanda nih?hihhihi), Penerima Beasiswa Erasmus Mundus Master Programme in Public Policy 2011-2013. Kedua cewek berprestasi ini berbagi pengalaman saat mereka traveling dan belajar di Eropa.
Tanya jawab dibuka 3 bagian, dari pertanyaan pengurusan visa Schengen, makanan halal dan menjalankan ibadah di Eropa dan serba serbi berada di Eropa. Menurut Mr.Wadubes EU, segala hal yang ada di Eropa sama halnya seperti di Indonesia, ada yang murah dan ada yang mahal karena beragamnya Eropa. Kalau mau transportasi murah bisa beli 'Passticket" yang bisa digunakan keliling Eropa. Penginapan murah-pun banyak tersedia di perkotaan Eropa.
Acara ditutup dengan menyantap Pasta dan Pizza, masakan Italia - salah satu negara anggota European Union.
Minat ke Eropa, baik untuk belajar ataupun wisata? Silakan hadir di acara : "Destination Europe 2014" . Nanti kita bisa kopdaran... :)))
Oh ya, Mr.Colin Crooks rekomendasikan kampung halamannya, Irlandia Utara dan kota-kota bersejarah di Eropa untuk kita kunjungi.
Mau Bisnis asal Swedia Eropa? Hubungi saya di 0818477757 (SMS ya kalau belum terjawab :))
Sekali-sekali pengen mengalami pengalaman teman-teman yang traveling dengan
backpacker style, walaupun hati kecil mengatakan kalau keuangan lagi
ngepas mendingan duduk manis di rumah aja. Dengan duit ngepas itu saya
masih bisa berhore-hore di Jakarta bersama teman-teman atau saudara.
Nah, kali ini, untuk pertama kalinya saya bermalam di luar negeri di
sebuah hostel di Singapore. Bertepatan dengan tanggal 26 October 2012 alias Idul Adha 1433 H.Awalnya khan kami berencana berangkat
berenam. Penerbangan kami malam hari, setibanya di Changi International
Airport Terminal 1 pukul setengah 1 pagi, jadi kakak saya merasa sayang jugalah kalau
harus membayar hotel berbintang dengan pembayaran full. Itupun bukan
cuma 1 kamar. Kakak saya booking 1 kamar hostel yang berisikan 6 tempat
tidur untuk kami yang akhirnya berangkat hanya berlima.
Penginapan tersebut bernama : Grace Lodge di kawasan Paya
Lebar Singapore. Tiba di Singapore dengan pesawat Jetstar Airbus A320
yang bagian belakangnya sepi penumpang, sehingga saya dapat menclok ke
seat 28A dari seat 29A. Bisa asyik selonjoran deh! Penerbangannya
ontime, tiba di Singapore juga lebih cepat dari time estimasi.Selama
penerbangan kami diberi roti red bean dan air putih. Kami juga makan
paket makanan dari resto fastfood di bandara yang niatnya akan kami
makan saat menunggu keberangkatan. Boro-boro makan, menukar dollar di
moneychanger aja nggak sempat karena tepatnya jadwal penerbangan.
Bulan September 2011 saat liburan lebaran, saya pernah menuliskan mengenai hotel yang kami singgahi tanpa bermalam. Ketika itu ibu saya mengungkapkan ingin bermalam di hotel tersebut, saya juga menanamkan keinginan tersebut ke pikiran bawah sadar.
Alhamdulillah, tanggal 9 - 10 Maret 2012 keinginan tersebut terkabul :) Start jam 9 pagi dari Pulo Mas dengan Honda Jazz Hitam yang dikendarai Mbak Wien. Yes, mobil yang berbalik arah ketika kami akan melihat bunga Sakura saat libur lebaran lalu. Kami bertiga (Mbak Wien, Ibu dan Saya) terlebih dahulu menjemput Mbak Naning di Cibubur - dan Honda Jazz Hitam ditukar dengan Honda Jazz Silver milik Mbak Naning. Lebih baru en lebih gress, selain itu andai Mbak Wien sedang meeting maka Mbak Naning bisa mengendarai mobil tersebut untuk berkeliling hotel atau daerah sekitar. Hihihi, saya en Mbak Naning memiliki "keyakinan" yang sama, yakni hanya dapat menyetir kendaraan yang memang milik sendiri dan biasa digunakan secara rutin. Kalau diminta menyetir mobil/motor milik orang lain??? Kita geleng-geleng menolak ;-D
Hotel Seruni yang memiliki tag The Fountains Hotel terletak di Jl.Pirus Kp.Baru Tegal Cibeureum Cisarua Bogor. Memiliki 3 "sektor" , Seruni 1,2 dan 3. Semakin banyak angka-nya maka semakin mahal ;-D Sayangnya saat memasukkan keinginan tersebut ke pikiran bawah sadar saya nggak memasukkannya secara detail untuk sektor yang saya inginkan, sehingga saya mendapatkan menginap gratisannya di Seruni 1. Itu-pun Alhamdulillah yah, harus disyukuri karena kalau kita bersyukur maka kekayaan kita akan semakin bertambah. Walaupun kamar mendapat di Seruni 1, tetapi untuk breakfast dan fasilitas lainnya sama dengan Seruni 2 - 3. Kamar di Seruni 1-pun sudah bagus kok. Saya memilih kamar no.48 (kesannya biar seperti AKB 48 or JKT 48 deh...hehehe). Sekamar dengan Mbak Naning, sedangkan Ibu en Mbak Wien di kamar no.46. Kamarnya juga strategis, pas di depan parkiran, view pegunungan.
Niat hati sih kami sekeluarga ingin menginap lagi di Seruni 3, tapi untuk tanggal yang kami minati ternyata udah full booking.
Salah satu hal yang juga membuat saya menyukai hotel ini adalah interior kamarnya yang Indonesia banget! Ini nih beberapa foto kamar-nya :
Room 48 : Khas Bali
Sofa @ Room 46
Room 46. Siang sampai jam 11 malam saya leha2 disini. Tengah malam sampai pagi, pindah ke room 48
Mendaki untuk breakfast...tuh kanan atas tempat kita breakfast
Breakfast
Setelah breakfast kami checkout. Mbak Wien nawarin ke kami apakah kami mau jalan-jalan di Taman Safari. Sebenarnya sih saya udah lama juga ya nggak main di Taman Safari, tetapi Mbak Naning ragu-ragu - akhirnya nggak jadi deh....
Masukin ke pikiran bawah sadar lageee....eh,terlaksana loh,en cuma dalam waktu 2 minggu! Catatan perjalannya akan saya posting di Cinta Wisata Kita yaaa... :)
Ketika menghadiri acara yang diselenggarakan oleh Hijab-Scarf.com dan Fimela.com di Fimela House @ Level One Grand Indonesia saya memperoleh goodiebag yang didalamnya saya temukan buku saku dengan judul 'Traveling in Style'....yiiipppiiii,seneng deh dapet buku ini. Buku mini ini berisikan foto-foto beberapa muslimah melakukan traveling ke Europa(Land)+UK dan Singapore. Yang ke Singapore adalah Fifi dan Hanna, owner Hijab-Scarf.com yang menyelenggarakan event 'Empowering Women Through Blogging'.
Buku ini dibuat oleh produk kosmetika Muslimah, jadi banyak pesan sponsornya deh...hehehe,tapi It's okay - karena bermanfaat untuk saya yang senang traveling tapi gak mau mati gaya! Pengennya lagi sih produk kosmetika/beautycare ini membuat buku untuk traveling yang outdoor gitu,misalnya kasih tips kalau mau snorkeling di laut maka kream kulit yang digunakan kalau kita berenang di kolam renang berkaporit apakah harus sama atau berbeda. Trus kasih pencerahan ke kita-kita juga gimana kalau wisata gunung ,tapi kita gak mau kulit kita belang...hhmmmm,tapi kita tetap mau ke gunung loh, jangan dijawab,"Loe tidur aja dirumah!" ;-D Asli, ini bukan ajang berganjen-ganjen ria.Saya khan mau menjaga amanah Allah SWT bernama kecantikan...cieee sok cantik ya gue? Laaah,emang semua cewek diciptakan oleh Allah dengan kecantikan masing-masing khan? Nah,sekarang tugas kita - minimal menjaga kebersihan, minimal kebersihan diri kita. Yak gak?
Pernah melihat kincir di berbagai tempat hiburan semacam theme park? Kalau saya sih sering....*huh gitu aja sombong! hahaha...maklum deh, sepertinya waktu kecil taman ria isinya cuma kincir, komidi puter and bom bom car! Sejak kecil saya bermain kincir di taman ria bersama keluarga...sering banget. Terakhir naik kincir tahun lalu di TransStudio Makassar Sulawesi Selatan yang view-nya hanya 'mentok tembok'.
Nah waktu saya ke Singapore November 2010 karena keterbatasan waktu tidak sempat menikmati keindahan Singapore dengan kincir raksasa alias SINGAPORE FLYER World's Largest Giant Observation Wheel... Maklumlaaaah, namanya juga traveler gratisan! Traveler gratisan tapi ogah berbackpacker ria ;-p
Mampir ke area ini juga tidak sengaja, karena ketika akan berangkat ke Jurong kami di drop di lobby Singapore Flyer. Lah sepengetahuan saya sih jam 8 pagi loket belum dibuka, dan ongkos untuk menikmati pemandangan dari wahana ini selama 30 menit adalah SGD $ 29.50/orang. Saudara yang saat itu bersama saya ekspresi-nya sudah mengatakan,"Iiih, mendingan uangnya untuk nambah-nambah beli tas brand limited edition di butik dah!" hahaha...Saya mikirnya,"Waduh,suasananya lagi kurang romantis nih! Dan keburu gak ya karena jam 12-an kami udah janjian dengan Galuh yang pagi itu lagi jadi Solo Shopper di Orchard Road?"
Kalau di kincir taman ria atau theme park kita paling cuma bisa duduk manis sambil celingak-celinguk dan dagdagdag ke orang-orang di bawah, sedangkan di Singapore Flyer kita bisa ngopi-ngopi! Bahkan kalau berminat Sky Dining Flight...biiiisssaaaa banget! Dinner bersama pasangan kita membayar SGD 249 dikasih waktu 1 jam beromantis ria dengan pasangan dengan 3 course Fine Dining Menu. Wuuuww, tahun 2011 ah daku harus mendapatkan paket ini! *Mr. A, let's go there, Hon! Kalau mau menikmati Cocktail or Champagne juga bisa dengan dana SGD 69...tapi kutakmau dah karena haraaaam! Whahaha, child sih disediakan Moctails dengan harga SGD $48.30...tapi yang beneeer ajah, mosoq daku mau sok jadi child. Lah tapi khan saya gak boleh minum Cocktail yang beralkohol ituh! Ya sutraaalaaah SKY DINING aja deh dengan Mr.A ;-)
Detik terkahir berada di USS kami kembali menyisir area ini. Sementara tidak ada wahana di Madagascar yang kami taksir, tetapi kami sangat menggemari tokoh-tokoh yang ada di film tersebut , khusus-nya si Penguins . Wuuuiiii kerinduan saya akan hewan imut ini (yang pernah saya ceritakan DISINI) akhirnya terpenuhi di USS. Kami langsung menyeruak diantara gerombolan orang yang sedang menyaksikan atraksi mereka yang lucu. Dasar memang jodoh, dengan mudahnya kami tepat berdiri diantara antrian hewan lucu ini....Thanks GOD!
Selain itu di USS saya juga dapat bersua dengan 'Pangeran Kodok Durhaka'...hahaha. Udah dikutuk jadi Kodok, eh masih dikutuk jadi batu pula ;-p Betapa malang-nya nasib-mu, Sang Pangeran! Ngalahin Malin Kundang dah, Malin Kundang aja nggak dikutuk jadi Kodok ;-p
Di area New York kami-pun tidak melewatkan atraksi special efek pembuatan film dengan latar New York City. Wahana bernama Lights, Camera, Action!™hosted by Steven Spielberg sungguh sayang untuk dilewati. Ada spesial efek petir, angin ribut, kebakaran...yang semuanya berbeda dengan atraksi debus! *halah! Keluar dari wahana ini saya membayangkan suatu saat film yang saya buat akan mendapatkan piala Oscar...duh semoga mimpi itu melaju bersama pelangi!
Atas : Di "tempatnya" Steven Spielberg" Bawah : Bersama Oscar Award yang kuraih ;-D
Menjelang Maghrib kami keluar dari USS. Seorang nenek petugas menanyakan apakah kami akan kembali lagi masuk ke area USS. Kami cengar cengir ragu dan menjawab,"Yes, maybe...". Pergelangan tangan Galuh di-stempel, menyusul saya yang kemudian menyodorkan tangan bagian dalam. Namun ...kok nggak ada tintanya?! Saya bertanya kepada nenek petugas tersebut. Galuh langsung melihat ke pergelangan tangannya yang juga masih "kosong". Nenek itu menjelaskan kepada kami sambil mengambil alat mirip stempel dan menyinari pergelangan tangan kami satu persatu...whahahaha...ternyata sinar itu seperti sinar laser berwarna biru keungunan (seperti sinar deteksi uang asli/palsu). Begitu disinari di pergelangan tangan saya terdapat tulisan 'DONKEY'. Bwahahaha...norak banget dah guuuueee...guuuee pikir bakalan distempel dengan tinta biasa seperi di Dufan yang biasanya sering membuat kotor. Weeddeeh, bertahan berapa lama nih tulisan? Kalau berbulan-bulan bisa masuk gratis ke USS dilain waktu dong? *ih ngarep! Hehehe, or jangan-jangan bulan depan tulisannya diganti 'FROG' atau lainnyaa? ;-D
Kami masih sempat menikmati suasana Vivo City menjelang malam hari, masih sempat belanja di Vivo City - kemudian dengan naik MRT kami menuju China Town. Saya membeli aneka souvenir untuk oleh-oleh yang standard, Galuh mencari Nasi Bebek - namun akhirnya malah beli dompet gantungan kunci mobil di OG. Katanya sih dompet kunci mobil di OG banyak alternatif pilihan model dan harganya-pun (kalau dirupiahkan) "cuma" beberapa ratus ribu rupiah. Dari China Town kami kembali ke hotel dengan naik taksi. Makan malam di rumah makan depan hotel.
Sorry, Jack...bukan daku berniat narsis jika memberi sub-judul seperti diatas. Bukan pula berniat congkak, sombong atau berbangga hati - namun karena tidak akan ada hukuman denda di Singapore ini jika saya mengakui bahwa saya adalah kembaran Marilyn Monroe maka saya bebas mengakui ini semua ;-p Hihihi... Oke-lah saya juga akan "mengadopsi" Galuh sebagai kembaran dari Beety Boop yang juga merupakan tokoh animasi favorite-nya. Dia sempat kegirangan melihat Silver Screen Collectibles menyediakan aneka collectible tentang Betty Boop di area Hollywood. Sedangkan saya, sejak datang ke USS saya sudah kasak kusuk mencari 'Marilyn Monroe KW1 'di arena Hollywood and New York.
Stores yang menjual aneka merchand Betty Boop
Kami bertemu mereka justru ketika ingin keluar dari USS. Lucu-nya 'Marilyn Monroe KW1' ini sempat ngibrit lantaran kehujanan...hehehe, emang sempat hujan sih. Akhirnya pemotretan-pun dilakukan di 'emperan' jalan yang beratap dan bercanopi. Sayang banget, kami bertemu dan berfoto bareng justru saat sudah lusuh lantaran diujlak ujluk oleh aneka wahana! Sedangkan kedua 'KW1' tersebut justru baru saja dandan dan masih fresh! Kalau kami dandan dan sejak awal, pasti kami lebih cantik daripada mereka ;-p Hahaha...awwwaaas, Aaaan, jangan kelewat narsis! Oke deh, saya menyatakan saja bahwa jika mereka tidak berdandan dan diujlak ujluk oleh aneka wahana di USS pasti mereka lebih awut-awutan daripada kami...hihihii..;p Ketika sedang mengantri berfoto dengan Betty Boob kami juga melihat Denny Malik, aktor Indonesia yang multitalen itu loh. Bahkan keesokan hari-nya Galuh melihat Denny Malik kembali di Lucky Plaza...hihihi, berarti beneran yang kami lihat adalah Denny Malik. Kirain sih ada 'Denny Malik KW1' juga di USS ;-)) Eh, barusan Mas Tunggal nelp en bilang mau ke Singapore tanggal 26 December 2010, en dikatakan gurunya Sekar di SMA 28 Jakarta untuk bidang EO-nya adalah Denny Malik. Langsung aja aku bilang kalau kami ketemu Denny Malik di USS...hehehe
Hiii...sungguh, bukan ini kembaran kami!
Btw, prediksi Galuh yang menyatakan bahwa kami pasti gak akan cukup jika hanya 3 jam di USS ternyata benar! Kami sampai di Vivo City menjelang Maghrib...saudara kami yang menanti-pun sudah ngedeprok di kursi tunggu Vivo City dengan aneka goodie bag yang berisikan aneka tas branded belanjaannya...hahaha...
@ Dhoby Ghaut MRT Station menuju USS Nama-nya ngingetin nama tokoh di film juga,,hehe,,
Dari Bugis Juction saya dan kedua saudara saya naik taksi menuju hotel. Mereka hanya mengambil tas yang telah beranak pinak di Orchard Road kemudian melanjutkan perjalanan ke bandara dengan taksi yang mengantar kami dari Bugis Junction. Saya masih semalam lagi di Singapore. Kala itu waktu menunjukkan pukul setengah lima-an sore. Saya menyalakan tv flat yang bertengger di dinding kamar. Sekian menit saya berpikir,"Halah , mosoq sih saya nangkring doang di kamar??? Tapi kalau jalan-jalan di Orchard Road juga bikin mupeng melihat aneka barang branded yang harganya dibawah harga pasaran di Jakarta...". Kalau menghubungi kenalan, teman atau network yang tinggal di Singapore...wah, waktunya tanggung banget! Kalau mau ketemuan sama mereka sih nggak cukup hanya sejam atau dua jam. Saya-pun segera action melakukan niat sebelum pergi ke sini, yakni nonton bioskop di Singapore! Belasan kali ke Singapore namun tak sekalipun saya menonton di cinema. The Straits Times yang kemarin diberikan oleh hotel saya sambar, langsung saya buka lembar iklan bioskop. Ada 2 pilihan yang waktu putarnya cocok, yakni Plaza Singapura dan Marina Square. Pilihan jatuh pada Plaza Singapura , cukup jalan kaki dari hotel saya menginap. Meluncurlah saya ke Sommerset MRT Station. Loh, kok kesana? Katanya bisa cukup dengan berjalan kaki? Iya, tapi kali ini saya bermaksud menukarkan 3 kartu MRT dengan uang SGD 3. Lumayan untuk tambah2 tiket nonton! Huhuhu...kok perhitungan banget sih?! ;p Setelah mendapatkan 3 logam krincingan tersebut saya melanjutkan ke Plaza Singapura yang terletak di samping istana dan diseberang Dhoby Ghaut MRT Station. Suasana Christmas sudah terasa sangat di sepanjang Orchard Road hingga seluruh Singapore. Antrian cinema juga puaaanjang dan tertib. Tak seperti di 21, XXI atau Blitz ketika membeli tiket saya tidak mengerti konfigurasi seat, sehingga pasrah aja deh dikasih seat mana saja. Waktu petugas loket mengatakan bahwa saya mendapatkan seat nomor 4 dari belakang sih oke-oke aja. Lah bukannya itu seat ideal kalau kita nonton di cinema Jakarta? Weaaalaaah, ternyata saya dapat seat di ujung dekat jalan! Tapi oke kok karena layar di Golden Village (Nama cinema di lantai 7 Plaza Singapura) lebaaar... Harga tiket yang SGD 10 saat weekend ternyata lebih murah daripada nonton 3D film yang sama di Blitz MOI Kelapa Gading yang Rp 70.000,- saat weekend, atau di Satin Lounge-nya Blitz Grand Indonesia yang Rp 80.000 ,- Kalau "terjemahin" Plasa Singapura khan sama dengan Mall of Indonesia dan Grand Indonesia. Keeerreeen, berarti tingkat kemakmuran orang Indonesia dan Singapore lebih baik Indonesia dong ya kalau ukurannya dari harga tiket nonton ;-p ;-p Nikmat banget deh memandang wajah Daniel Radclieff tanpa ada gangguan dari pihak manapun juga. Teks-nya Mandarin, so good practice juga nih...secara saya udah lama nggak denger bulek Inggris ngomong - not American yaa.... ;-)
Entah mengapa saya dan Galuh tak terlalu antusias ketika memasuki area The Lost World™ . Mungkin karena yang memenuhi area tersebut adalah anak-anak. Lagipula...hari gini kok masih ada Dinosaurus?? Hihihi...kalau mummies khan emang masih ada ;-D Bukan karena itu ding, tapi permainan yang begitu "menubruk" pandangan kami saat memasuki area tersebut adalah Dino-Soarin’™ yang anak kecil aja bisa...hehe, lebih menantang nyebrang di depan kantor saya kalee...
Nah, sebenarnya kami tertarik dengan Jurassic Park Rapids Adventure™ , tapi dalam papan warning mengancam bahwa kami harus siap-siap basah kuyup jika bermain di wahana ini. Iiih, maleeeess...kite mah masih mau poto-poto bergaya okeh dung! Apalagi belum sempet ketemu kembaran saya di masa lalu, Marilyn Monroe ;-p So kami buru-buru pindah ketempat lain...hahaha, sebenarnya Galuh udah persiapkan topi untuk basah-basahan waktu aku kasih informasi bahwa ada wahana di USS yang bikin kita basah kuyup. Tapi berhubung dia udah ber-blow ria dengan hair dyer di bathroom hotel - jadinya dia gak sudi harus nge-blow rambutnya lagi. Malah mungkin sebelum ke Singapore dia udah ke salon dulu untuk nge-catok rambutnya. Sebelum bertolak dari hotel dia sempat minta pendapat saya,"Che', apa aku bawa shower cap dari kamar mandi hotel ya?!" Syeeet daaah...hahaha... Area ini sempat kami skip, walau akhirnya kita beberapa kali balik untuk mengecek antrian wahana Canopy Flyer™. Kami tertarik dengan wahana ini-pun saat diluar area, karena kelihatan asyik. Jadi inilah satu-satu-nya wahana di area ini yang kita coba, setelah agak ilfil melihat wahana WaterWorld™ didominasi oleh para manula ;-D Masih sempat kami kembali ke area ini saat ingin kembali ke Vivo City untuk menikmati Jurassic Park Rapids Adventure™ . Yaaa...karena udah mau balik gak apa-lah berbasah-basah ria, tapi melihat time antrian yang 80 menit kami-pun ngeloyor pergiii...nexttime ajah dah!
Ancient Egypt (Source: Resorts World Sentosa Singapore)
ANCIENT EGYPT
Akhirnya kami berdua menemukan wahana terfavorit!
"Wiih, Egyt emang aaaajjjiiib!" seru kami berdua setelah menikmati wahana Revenge of the Mummy™. Begitu memasuki pintu kami harus melewati lorong panjang dengan berserakan peti mati, plus diiringi oleh suara-suara mengerikan. Saya dan Galuh saling berdempetan. Hahaha, saya khawatir bakalan kaget andai tiba-tiba peti-peti tersebut mendadak terbuka dan keluarlah mummies iseng dari dalamnya. Tetapi peti-peti tersebut bergeming. Saya sempat berkomentar,"Iiih, ini mungkin seperti rumah miring di Dufan yang nggak ada apa-apa-nya.". Tetapi (lagi) kok nggak sampai-sampai di luar sih? Saya dan Galuh mempersilakan pasangan kekasih di belakang kami mendahului kami. Hihihi...biar kalau ada mummi iseng kami nggak duluan kaget! Sumpee daaah, nih wahana asyiiik banget! Unpredictable pokoke. Bukan rumah hantu biasa dan bukan roller coaster biasa. Awalnya sih kita disuguhi hal-hal yang menyeramkan seperti di rumah hantu-nya Dufan zaman dulu kala gituh, tapi tiba-tiba aneka animasi dan warrior mummies muncul menyerang kita, katanya sih mau bales dendam. Waduh, Mak, bukan sekedar tidak menduga track roller coaster yang siap meluncur. Dikejar hantu mah udah biasa...tapi kalau depan belakang di hadang warrior mummies yang kalap. Gimane dung?! Aaah,pokoknya asyik dah...hehehe. Bikin saya bertakbir dan berzikir..."Duh Gusti, kalau aku bisa selamat dari tempat ini hamba akan sedekah deh sama tukang odong-odong or anaknya tukang ojeg!" . Begitu selesai kami beramai-ramai tepuk tangan, begitu pula dengan nenek petugas yang menanyakan keadaan kami. Hahaha...emang sih wahana wisata macam ini sebaiknya yang bertugas adalah nenek-nenek, lebih ngemong and care dengan tulus ;-)
Jiaaah..nih cewek nantangin gue berantem! @ Revenge of the Mummy™
Setelah itu, masih di area Ancient Egypt kami kembali antri di Treasure Hunters™. Nah, ini benar-benar rileks...mungkin lebih santai dibandingkan odong2nya Hana ;-D Ketika kami sudah menyelesaikan aneka permainan di USS, Galuh maksa-maksa saya untuk masuk lagi ke Revenge of the Mummy™. Bukan karena takut, tapi saya benar-benar merasa perut ini penuh karena Galuh mengajaknya saat saya sedang makan di Oasis Spice Cafe yang Wrap Chicken-nya segede belalai gajah! Huuh, bisa keluar semua dari perut kalau saya nekad main lagi di wahana ini. Akhirnya sebelum pulang, Galuh dengan manyun dan menggerutu : "Apa enaknya teriak-teriak sendirian?" sambil masuk ke wahana ini sendirian, saya yang masih kekenyangan menunggu di luar sambil menjaga tas-nya. Nggak lama kemudian dia keluar dengan cengar cengir kegirangan...hehehe.
Alhamdulillah...akhirnya tertanggal 26 November 2010 keinginan saya terpenuhi. Keinginan untuk berkunjung ke 'movie world' pertama di Asia Tenggara. Keinginan tersebut tercetuskan disini . Saya menuliskannya 'movie world', tepatnya sih bernama : Universal Studio Singapore. Hehehe, maklum dong ketika saya menuliskannya salah satu tempat wisata kebanggaan Singapore tersebut baru dibuka 9 hari sebelumnya (18 Maret 2010).
Sumber : Google
Cerita mengenai kunjungan ke Singapore (khususnya ke Universal Studio Singapore) akan saya tulis sesegera mungkin deh. Baru beberapa jam mendarat di Bandara Soekarno Hatta, en masih "ditunggu" oleh laporan pekerjaan nih ;-( Iiih, bulan December 2010 off dari aneka kerjaan dari pihak lain aaah! Mendingan jualan dulu, dapat uangnya juga lebih lumayan untuk plesiran bulan Februari 2011.
Sekilas saja nih saya cerita mengenai hari ini. Pukul 05.15 waktu Singapore saya bangun tidur. Semalam 2 saudara sudah kembali ke Jakarta dengan Lion Air, sedangkan penerbangan saya siang ini, pukul 12.30 by Garuda. Breakfast kali ini juga sendirian di Crystal Cafe. Menu pagi ini yang saya lahap adalah Nasi Lemak yang dilengkapi dengan Kacang Ikan Bilis ,Omelet Onion plus sambal. Babak keduanya saya melahap Cornflake plus milk. Minumnya cukup air putih. Nggak terlalu banyak dibandingkan kemarin, karena beberapa jam lagi saya akan makan di pesawat terbang. Balik ke kamar dan baca-baca The Sunday Times yang digeletakkan di depan pintu kamar tadi pagi.
Transfer to Changi Airport
Jam 8an saya sudah menghubungi Ms.Alise dan Ms.Melisa menanyakan sopir yang akan mengantar ke bandara. Memang sih penerbangan masih beberapa jam lagi, tapi saya senang banget nongkrong di Changi International Airport - jadi saya ingin berlama-lama disana. Tetapi Ms.Alise mengatakan bahwa saya akan dijemput pukul 10.Huu...cuma sebentar dong saya bercengkerama dengan Changi? ;-(
Tepat jam 10 shutle wisatawan datang ke Orchard Grand Court Hotel tempat saya bermalam. Ternyata sudah ada 2 ibu dari Indonesia berada di shutle tersebut. Hehehe, ternyata mereka adalah 2 cewek yang kemarin tour ke Jurong Bird Park bersama kami, dan turun bersama kami di Grand Hyatt Orchard Road. Melihat koper yang mereka bawa...aammmpuuun, belanjaannya berapa kilo tuh?! Sepertinya 50 kilo-an aja sih ada. Secara kemarin begitu turun dari bis wisata seusai tour half day saya lihat mereka langsung menuju etalase salah satu brand. Bahkan My Sis sempat membisiki saya,"Tas cewek ini harganya 8 juta tuh,merk-nya Loewe. Aku punya, belinya waktu ke Eropa."
Oke-lah belanjaan saya kali ini 'kalah pamor' dari mereka, tapi begitu di Changi saya turun di Terminal 1 dan sang driver mengatakan ke mereka bahwa pesawat yang saya naiki adalah Garuda (Full service euy!Kok gue sekarang bangga ya sama airline milik bangsa ini!?Padahal dulu nih airline selalu menjadi alternatif terakhir jika saya ke luar negeri), sedangkan mereka naik Sriwijaya Air.
Saya langsung ke antrian check in counter Garuda. Tiket pesawat, pasport dan GFF Card saya persiapkan. Diantrian depan dan belakang saya orang-orang Indonesia. Terutama yang antri di belakang saya, belanjaan-nya bujubuneng...mereka seperti-nya keluarga. Si cewek nanya ke yang cowok tentang GFF Card yang saya pegang. Dengan "songong"-nya tuh cowok bilang bahwa kartu tersebut nggak ada manfaat apa-apa. Si cewek nambahin kalau toh mereka jarang naik Garuda. Duuuh, member-nya di LCC ya, Ci' ?!
Tak lama dari berkomentar demikian, tiba-tiba petugas check in counter Executive Class menghampiri saya dan meminta saya ke counter khusus penumpang Executive Class. Membuat beberapa penumpang, termasuk orang-orang di belakang tadi yang ngomongin GFF Card beraut ekspresi bertanya-tanya. Hihihi...sorry ya, Guys, saya duluan.....
Mungkinkah hal tersebut karena petugas melihat saya memegang GFF Card? Tapi yang jelas, saya ingin mengatakan ke cowok di belakang saya itu,"Ini loh salah satu manfaat GFF Card.." hehehe...
On The Flight
Kapten yang membawa pesawat yang saya tumpangi sempat lewat di depan saya. Pesawat take off dengan ontime! Namun dikatakan cuaca tidak bagus. Pesawat sempat menghentak 2x saat menembus awan, sehingga membuat para penumpang berteriak - teriak. Saya yang duduk di seat 28A (Pilih belakang nggak masalah, asalkan near window) justru terdiam. Serasa masih berada di Universal Studio nih...hahaha...dan saya sungguh percaya dengan keahlian sang kapten. Oh ya, kali ini kami lebih banyak dilayani oleh Pramugara. Yang menghidangkan makanan di dalam penerbangan juga pramugara-nya. Sempat melihat pramugari-nya pada saat di pintu pesawat dan saat ia menutup laci-laci cabin.
Menu makan siang kali ini adalah Ayam dan Nasi Putih, Salad Tomat Paprika Salada berbumbu lada hitam, roti tawar and butter plus cake yang ditaburi almond. Minumnya saya minta Coke. Pada saat akan take off lagi-lagi kami diberi Orange Juice. Saya-pun menikmati hidangan makan siang itu diiringi suara Afgan dari Inflight Entertaintment yang saya pasang. Weeeiii, pulang pergi diiringi Afgan...hahaha. Sementara anak kecil di sebelah kanan saya menyaksikan film kartun.
Welcome to Home
Baru kali ini saya pulang dan pergi ke dan dari airport dalam perjalanan luar negeri tanpa ada yang mengantar dan menjemput. Banyak sih yang menawarkan ingin mengantar dan menjemput, tapi saya pikir lebih praktis naik Damri dari/ke Rawamangun. Toh setiap hari saya juga ke Rawamangun, dan baru sekali ini pula saya pergi ke luar negeri dengan bawa-an yang super minim. Hari ini pula ada arisan keluarga di rumah Mas Tunggal - jadi lebih baik saya pulang naik Damri aja deh daripada "merusak" acara keluarga.
Nah, begitu keluar dari ruang kedatangan tiba-tiba ada yang memanggil saya. Ternyata ibu yang tadi bareng ke airport dengan saya.Dia nanya,"Pulang kemana, Mbak?" Saya menjawab sambil melambaikan tangan. Baru beberapa langkah tiba-tiba ada yang mencolek...ternyata Tary, rekan penulis yang dulu aktifis FLP dan sekarang kerja di TransTV. Dia akan menjemput ibu-nya yang pulang dari tanah suci. Yup tadi memang di Imigrasi Counter saya barengan dengan rombongan haji. Sejenak kami ber-chit chat ria...
Alhamdulillah dengan selamat saya tiba di rumah. Dari Terminal Rawamangun naik taksi ke rumah, cuma habis Rp 15.000 ,-
Hari ini, 15 November 2010, jamaah haji dari seluruh dunia berkumpul dan berdoa bersama di Arafah. Sebuah kenangan yang tergores di pengalaman hidup saya melaksanakan kewajiban yang seumur hidup hanya sekali. Ibadah yang dibanggakan kepada malaikat-Nya...bagi saya itu terjadi sebelas tahun yang lalu. Sebagian kisah akan tertulis di buku saya yang akan terbit, mohon doa-nya atas terbitnya buku ini.
Inilah satu bagian dari cerita di Arafah yang saya alami di tahun 1999 :
-->
PENJUAL MAKANAN DI ARAFAH
Bagi jamaah yang menunaikan ibadah haji di tahun 2006 mendapatkan kesempatan yang sama dengan saya ketika menjalankan ibadah haji tahun 1999, yakni haji Akbar yang wukuf di Arafah-nya pada hari Jum’at. Suatu keberuntungan tiada tara, namun cobaan sempat mendera jamaah haji dari Indonesia di tahun 2006. Mereka mengalami kelaparan ketika di Arafah dikarenakan pihak catering yang tidak dikordinasi dengan baik. Ya Dhoorru, Semoga rasa lapar yang mereka alami dapat diambil hikmahnya dengan sebaik-baiknya bagi hamba-Mu semua. Termasuk kami yang tidak berada disana saat kejadian.
Memang apa yang kita alami secara pribadi walaupun di satu tempat dan di satu waktu belum berarti sama dengan orang lainnya. Apalagi jika waktunya berbeda. Mendengar dan membaca berita mengenai jama’ah haji Indonesia yang kelaparan di Arafah melempar ingatan saya ketika saya berada di Arafah.
Ketika itu tanggal 8 Dzulhijah. Sore hari rombongan saya bertolak ke Arafah dari Mekkah. Jalanan sudah mulai ramai, namun Alhamdulillah kami yang terbiasa menghadapi kemacetan di Jakarta jadi tidak merasakan bahwa kemacetan sore itu begitu menyiksa. Bahkan kami termasuk yang cepat sampai di Arafah. Tenda jamaah haji Indonesia masih kosong. Kami rombongan pertama yang sampai di tenda tersebut.
Bagaikan petugas inspeksi saya berkeliling di sekitar tenda. Ada rasa ingin jajan seperti kebiasaan di Indonesia apabila sedang berkeliling perumahan. Aaahh...tapi saat ini saya sedang berada di Arafah. Lucu banget kalau tiba – tiba ada tukang jualan berkeliling.
Dan “kelucuan” itu memang terjadi! Begitu saya melintasi pagar kompleks tenda untuk melihat Jabal Rahmah ternyata ada wanita yang sedang berjualan. Berwajah khas Indonesia dan saya melihat keranjang jualannya.
“Gado – gado,Mbak.” Wanita itu menawarkan dagangannya.
“Gado – gado??” Aku balas bertanya. Masih belum percaya. Benarkah saya berada di Arafah?
Setelah diyakinkan oleh wanita itu saya langsung memesan gado – gado lontong dagangannya. Sedap! Penjual gado – gado tersebut berasal dari Madura. Tak seberapa lama temannya yang pedagang makanan khas Indonesia datang. Saya membeli makanan yang dia jual juga. Membungkusnya dan makan di dalam tenda bersama beberapa rekan yang terheran – heran melihat saya membawa makanan khas Indonesia seperti saya baru saja belanja di pasar Indonesia.
Mengingat kejadian yang saya alami sore itu di Arafah saya jadi terheran – heran dengan peristiwa kelaparan yang melanda jamaah haji tahun 2006. Bukankah di Arafah banyak penjual makanan Indonesia dan pedagang itu menjualnya juga dengan harga yang murah??