Showing posts with label wisata kerja. Show all posts
Showing posts with label wisata kerja. Show all posts

Sunday, 27 February 2011

Medan : Kamar Hotel Tanpa Jendela



Sama seperti di Jogjakarta, maka di Medan saya juga menginap di 2 hotel yang berada di ibu kota Sumatera Utara ini. Hotel pertama tempat saya bermalam dari tanggal 20 - 23 February 2011 di Hotel My Dream yang terletak di Jl.Surabaya Medan. Sebenarnya saya merasa nyaman di hotel yang belum genap setahun di Medan ini. Di lobby-nya saya bisa berselancar internet dengan monitor flat dengan tenang plus gratis, bahkan saat saya perlu mentransfer files dari MP3 ke flashdisk petugas front office-nya membantu di PC business centre-nya dengan gratis pula.Lantai kamar tanpa karpet, granit (?) hitam, tapi tamu disediakan sandal jepit oranye yang unik.Tanpa lemari tetapi ada semacam partisi untuk meletakkan pakaian. Terdapat jendela mungil yang tidak dapat dibuka, tapi view-nya hanya toko-toko model kuno...Yang mengesankan dari kamar hotel ini adalah ketika petugasnya (yang juga menjemput saya di airport dengan tariff Rp 20.000 ,-...murah khan? ;)) menunjukkan stiker sign kiblat yang terdapat di salah satu sudutnya. Di dinding kamar iuga terdapat foto istana Maimon, salah satu landmark kota Medan - memunculkan aura wisata bagi kamar tersebut.Bravo!

Receptionist Hermes Palace Hotel Medan

Nah, ketika pindah hotel ke Hermes Palace Hotel Medan yang front office desk-nya mirip desk Customer Service suatu bank saya sempat terperanjat melihat kamarnya yang lumayan mewah.Bukan...bukan lantaran saya norak...hotel berbintang 5+ sudah berulangkali saya inapi...hehehe,tapi saya terperanjat karena melihat kamar tersebut yang tidak memiliki jendela! Heleh...heleh...di bioskop lagi tayang film 'Rumah Tanpa Jendela', (katanya) kisah rakyat miskin yang menginginkan jendela di rumahnya - eh kok kamar hotel yang tarif semalamnya setengah juta rupiah (1 malam bisa untuk beli jendela sederhana ya? ;-D) nggak memiliki jendela?
Kamar yang saya inapi dari tanggal 23 - 26 February 2011 ini lumayan lengkaplah fasilitasnya, bahkan ada hairdryer segala yang biasanya standard fasilitas bintang 4 - 5, karpet tebal halus bergambar bunga (karena inikah tak disediakan sandal kamar?),wall paper, kulkas, coffee maker, tv flat nempel tembok, sambungan internet (yang sayangnya saat itu saya gak bawa laptop/notebook - kesannya gak niat kerja banget yak?!), perlengkapan bathroom yang bertuliskan Hotel Hermes Banda Aceh (Mungkin yang Medan belum "naik cetak"),AC split (Yang ini mutlak ada!), bed ukuran king yang bedcover-nya empuk abiiiiizzz (bulu angsa walau bukan bulu angsa kwalitas nomor satu....yang jelas ini membuat saya nyyyuuuuaaammmaaaan. Sudah lama tidak tidur berbalut bulu angsa...hahaha,so saya pasang temperatur 18 AC dan meringkel di dalam bedcover...nyeeeesss ;-D). Aaaah,kenapa gak ada jendela sih? Gak bisa mematikan lampu total deh! Keapikkan kamar yang tidak dapat dinikmati oleh orang yang phobi terhadap ruang tertutup, dan tidak dapat menikmati kota Medan dari jendela kamar...yah walaupun KOTA Medan tidak ada indah-indahnya deh. Saat breakfast di rooftop barulah saya puas-puasin menikmati kesemrawutan kota Medan dari atas (di lantai P - diatas lantai 10).

Di kedua hotel ini saya mendapat tarif corporate, karena yang booking hotelnya juga pihak klien. Sayangnya, walau hotel ini konon milik orang Aceh,tapi kok nggak ada aura keindonesiaannya ya? Bahkan sign arah kiblat ngumpet di dalam laci...hhmmm...

Sunday, 20 February 2011

Ini Medan,Bung!

Sebelum saya menceritakan kisah perjalanan tugas saya di kota-kota sebelumnya, maka izinkan saya memberi kabar bahwa hari ini saya telah tiba dengan selamat di ibukota Sumatera Utara, MEDAN. Ini kunjungan pertama saya di kota ini, padahal banyak kerabat bahkan 'Sang Mantan' lahir di kota ini.

Pesawat Lion Air tujuan Banda Aceh mampir ke Medan untuk menurunkan saya (dan penumpang lain yang tujuan Medan, tentunya). Ampun dah di pesawat tadi saya menjadi penumpang seat terakhir, seat nomer 39F - pojok belakang mentok dan memang merupakan nomer terakhir di aircraft tersebut! Hendra, cowok di sebelah saya senantiasa mengajak saya mengobrol - padahal dia ber-5 dengan teman-temannya yang mirip 'Sm*sh Separuh Baya'...hehehe. Pakek ngoceh-ngoceh bahasa Hokian pulak!

Pesawat yang dikaptenin oleh Capt.Luki Lukardi mendarat dengan baik walaupun sempat mengalami 2x masuk dalam kondisi cuaca buruk. Dengan cepat pula saya menemukan tas saya di conveyor bagage. Mudah pula menemukan cowok yang bertuliskan nama hotel dan nama saya di depan pintu masuk....Duh,Guuuusstttiiii,ganteng en manis juga nih cowok yang menjemput. Dengan kecentilan di mobil saya duduk di sampingnya.Eh, setelah check in dia kok masih megangin tas saya. Ampun dah, ternyata dia pula yang mengantar saya masuk ke kamar...weleh,weleh,untung imanku kuat (weks!).

Saya langsung mandi dan pukul 07:17 PM ada SMS masuk ke nomer GSM : Mba anna,sudah tiba dihotel mba?

Yup, SMS dari Natasha, Promotion Executive perusahaan klien untuk wilayah Medan - yang dengan berbaik hati mem-booking-kan saya hotel. Saya pesan 2 hotel sekaligus, salah satunya hotel yang sekarang saya berada yaitu : My Dream Hotel Medan.

Meja kerja saya selama di My Dream Hotel, Medan SUMUT

Sekarang saya mau cari makanan dulu deh, di cafe hotel ini sepertinya harga makanan tak terlalu mahal. Barusan udah jalan sebentar ke Jln Semarang yang jadi salah satu pusat kuliner Medan. Tapi saya agak "curiga" karena suasana pecinan-nya sangat kental.Besok aja deh kelilingnya setelah tanya-tanya ke klien. Barusan Dian yang kelahiran sini aja menelpon dan waktu saya tanya dia gak ngerti apa dan bagaimana kota ini, alasannya : "Aku khan cuma mbrojol disana, jadi udah gak ingetlah...."

Monday, 14 February 2011

Penerbangan Menawan di Hari Kasih Sayang

Awalnya saya merasa under estimate begitu mengetahui perjalanan udara Semarang - Denpasar harus saya tempuh dengan menggunakan aircraft ATR 72 - 500. Pesawat yang baling-baling-nya masih terlihat jelas,seperti baling-baling milik Doraemon ;-D
Hari masih gelap ketika saya meninggalkan Raden Patah Semarang menuju Ahmad Yani Airport dengan taksi Kosti yang dipesan oleh Tutur yang saat itu menjadi Front Officer. Hhhmmm...baru sekali-kali-nya nih di Ahmad Yani Airport Semarang (konon the most dangerous (for flight) airport in Indonesia....sssttt ;-D) tanpa keluarga atau teman.

Tanpa delay kami memasuki pesawat terbang dengan berjalan kaki. Masuk dari pintu belakang yang merupakan satu-satunya akses masuk ke cabin. Sesuai pesanan ketika check in, saya mendapat seat nomer 12F. Konfigurasi 2 - 2 dengan 20 barisan. "Lucu" rasanya begitu melongok ke luar dan melihat wings aircraft berada di atas kepala dengan baling-baling yang transparan.
Rasa under estimate saya benar-benar terpatahkan oleh baling-baling yang transparan itu ;-) Entahlah, barangkali kapten penerbangannya yang memang sudah sangat mengenal akan pesawat yang ia bawa. Saya merasakan kehalusan ketika pesawat take off meninggalkan runway Ahmad Yani Airport, merasakan kelembutan ketika pesawat menembus awan dan maintan di ketinggian 17.500 kaki.

Keindahan nan Sempurna
Dengan maintain yang tidak setinggi pesawat jenis Boeing atau Airbus kami dapat memandang beberapa puncak gunung di Jawa. Ketika saya samar-samar melihat satu puncak gunung, saya baru berpikir,"Duh,andaikan di hari Kasih Sayang ini saya dapat berada di cockpit tentu-nya saya bisa menanyakan nama gunung tersebut!". Ada pula pikiran,"Waduuuh, kalau ada GPS asyik banget nih!". Apalagi daratan masih samar terlihat dari jendela pesawat. Memang tidak terlihat "padang masyar" yang biasanya saya lihat ketika naik pesawat besar lainnya, namun penerbangan kali ini terasa indah. Saya tidak merasakan "jedukan" sedikitpun! Awan putih yang biasanya menggoncangkan pesawat ketika pesawat menembusnya kali ini saya rasakan membelai wajah saya ;-)

Ketika saya sedang bertanya-tanya dan menikmati puncak gunung yang terlihat tiba-tiba kapten pesawat berbicara. Saya yakin perjalanan masih di Pulau Jawa, saya yakin udara sangat cerah sehingga sang kapten tidak perlu menenangkan kami dan menginstruksikan cabin flight untuk duduk di seat-nya.Atau sang kapten ingin bernyanyi??? Lebih nggak mungkin kaaalliiii...;-D Cruuiing..tongkat nenek peri baik hati kembali beraksi ; Sang Kapten menjelaskan kepada kami bahwa gunung yang baru saja kami lewati adalah Gunung Bangil...mungkin Gunung yang berada di Bangil-kah? Karena saya cari-cari info soal Gunung Bangil nggak ditemukan di Google. Daaaannn di samping kanan kami tampak 2 puncak gunung yang lebih tinggi lagi, yakni : Gunung Semeru yang di puncaknya terpayungi oleh awan. Kweeerreeen...Maak, aye terbang lebih tinggi dari MAHAMERU neeh!!! Puncak Semeru nyata di depan mata, gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3676 meter dari permukaan laut. Huhuhu, Mahameru,sungguh kuterharu memandangmu. Apalagi seat yang kududuki tepat di sebelah kanan sehingga tak ada yang menghalangi pandangan.

Tuesday, 1 February 2011

Sparkling Surabaya 2011


Di bulan November saya membaca salah satu majalah wisata yang terdapat iklan mengenai 'Sparkling Surabaya 2011'. Jadilah saya bertekad di tahun 2011 saya harus ke Surabaya, kota full kenangan untuk saya pribadi! Walaupun soal slogan 'Sparkling Surabaya' sudah berpendar di tahun sebelumnya. 6 tahun sudah saya tidak mengunjungi kota ini. Terakhir kali ke Surabaya di bulan January 2005 - janjian dengan Ardian Yunianto yang entah kesambet apa ketika itu bersikeras menemui saya di Surabaya. Tahun 2005 saya hanya janjian di daerah Manyar, kemudian menonton film di Tunjungan Plaza dan Delta Surabaya Plaza secara marathon. Film-nya apa saja saya sudah lupa! Malam itu juga kami berdua naik bis eksekutif malam ke Semarang. See...dengan cara visit demikian bagaimana saya bisa mengenang masa kecil saya nan indah di Surabaya?
Cruuuiing, tongkat nenek peri bekerja terhadap tekad saya! Tanggal 12 January 2011 di Exelco Intiland Jakarta saya ditugaskan untuk Indepht Interview di 7 kota Indonesia. Salah satu-nya Surabaya. Yiiipppiiii...kesampai'an deh visit ke Surabaya , Sparkling Surabaya 2011.

Bobo' on Flight
Berangkat dari rumah jam 4 pagi, memesan Taxiku dan langsung meluncur menuju Bandara SoeTa melalui toll. Turun di Terminal 1 A, Check In dan mendapat nomer seat 22 A. Kali ini on board-nya ontime, Lion Airline JT 748. Jenis pesawat B 737 -900 ER yang gede di body doang, tapi tempat duduk-nya sempit dan keras! Tapi herannya saya justru baru sekali ini menempuh flight dalam negeri hingga tertidur. Ngantuk euy! Gak ada "gangguan" dikasih minum or makanan dari pramugara/i-nya. Jadi ujug-ujug....'bledug', kaget saya melek dan melongok ke window,"Loh kok udah landing?!" Huahahaha...baru kali ini saya terbang tanpa merasakan keindahan trafic pattern!
Di Bandara Juanda Surabaya Bimo dan Fajar sudah menjemput, berderet bersama para sopir taksi gelap. Hehehe, mereka ngebecanda-in saya,"Mbak , taksi, Mbak....Taksi." Menawarkan bergantian dengan sopir taksi sesungguhnya. Dasar! ;-D Si Mitsubihi Galant yang biasa kami naiki di Jakarta kini sudah berada di Surabaya.


BREAKFAST PERTAMA DI SURABAYA
Breakfast pertama di Surabaya kami bertiga makan Bubur Ayam di Gayung Sari, dekat tempat tinggal Bimo. Sebelumnya kami berhenti di Mesjid Akbar Surabaya yang megah. Saya dengan narsisnya minta difoto dengan latar mesjid tersebut.

Setelah makan pagi kami menuju mess tempat tinggal Bimo. Oh ya sebelumnya kami sempat mampir di-kost Fajar di bilangan Sedati dekat dengan bandara.
Pokoke sehari penuh, di hari Minggu kami jalan menyusuri Surabaya hingga Pulau Madura. Ceritanya nanti-nanti aja yo! ;-D

Saturday, 29 January 2011

5 Days in Bandung : Hotel...Oh HOTEL!

Nggak, nggak jadi 5 days in Bandung. Akhirnya hanya 4 hari di Bandung, karena hari Jumat saya ada urusan di Jakarta, dan di Bandung ada Hendra yang sudah saya estafet-kan tugas melaksanakan Indepth Interview di kota ini. Sepertinya hal ini mengingatkan kepada saya agar saya menyiapkan Interviewer dan Observer berkwalitas yang menguasai metode penelitian deh! Prinsip network sukses adalah menduplikasikan keahlian atau sistem kepada banyak orang sehingga sistem dapat bekerja secara otomatis tanpa kita perlu bekerja keras!
Oke, disini saya nggak akan membicarakan masalah pekerjaan kok. Saya akan menceritakan tentang seseorang yang seharusnya bekerja secara profesional, di bidang apapun! Anda sebagai tukang bakso, maka jadilah tukang bakso yang profesional! Jangan pernah menyepelekan sekecil apapun tugas tersebut. Loh, gimana sih, katanya gak akan membicarakan masalah pekerjaan? Kok malah ngelantur ke urusan ini? Oke...oke...oke...sebenarnya saya akan cerita tentang hotel di Bandung kemarin! Tentang Front Officer hotel yang salah menempatkan saya selama 2 malam di Bandung.
Pihak perusahaan yang meng-hire saya khan sudah mem-booking-kan hotel untuk saya (sorry jika bahasa awut-awutan ;-D). Perusahaan reservasi dan membayar untuk 4 malam Deluxe Room yang fasilitas-nya : FULL AC, Airport Transfer, Breakfast dan beberapa fasilitas dengan harga Rp 300.000 ,-/night.
Sehubungan saya naik shuttle, maka saya tidak menggunakan fasilitas Airport Transfer. It's okay-lah, dari point Dipati Ukur saya hanya bayar angkot Rp 3000,- ke hotel. Padahal berdasarkan informasi ongkos yang harus saya bayar Rp 2000 ,-. Gak peduli dah, saya saat itu menyodorkan lembaran limaribuan - terserah mau dikembali'in berapa!Dari ngembali'in berapa aja saya bisa ngerti apakah si sopir angkot memang sopir yang profesional or asal dapat duit...hehehe
Ketika diantar oleh petugas hotel ke kamar, memang tidak komentar apa-apa. Pasrah aja dah, kurang perhatian - apalagi saat masuk kamar Lusi - bagian keuangan Markplus menelpon. Kalau bagian keuangan MP yang menelpon pasti saya harus buru-buru menangani dengan fokus...hahaha...
Setelah itu saya baru sadar bahwa kamar yang diberikan kepada saya mirip dengan kamar Hotel Raden Patah Semarang. Hanya ekstra televisi, bahkan fan-nya masih lebih bagus Hotel Raden Patah Semarang - kamarnya juga lebih luas kamar di Hotel Raden Patah Semarang! Terlintas berkata dalam hati,"Seperti ini nih kamar dengan rate Rp 300.000 ,-/malam dengan status deluxe? Gimana standard-nya ya? Sedangkan Hotel Raden Patah yang di kawasan Kota Lama - area wisata saja tarifnya nggak sampai Rp 100.000 ,-/malam." Tapi lagi-lagi saya "pasrah" sambil nyeletuk dalam hati lagi,"Tega amat sih perusahaan sampai ngasih akomodasi ke gue kayak gini?!"

SALAH KAMAR
Hingga 2 malam saya tidur di kamar tersebut. Malam pertama di jam 2 malam terdengar keributan dari gang samping hotel, dan malam kedua di jam 12 malam terdengar suara ramai dari kamar tetangga. Phuuuufff...;-(
Suatu sore, saya kembali ke hotel dari tugas wawancara. Baru sejenak merebahkan badan tiba-tiba telepon berdering, dari resepsionist yang mengatakan bahwa selama 2 malam ini saya salah masuk kamar! Haaahhh????!!! Kucriiiit...pantesan aja! Gimana sih tuh resepsionis yang shift pagi?
Dengan termaaf-maaf seperti orang lebaran resepsionist yang bertugas sore memindahkan saya ke kamar Deluxe yang memang full AC, pantry,coffee maker, bathup....yang memang layaklah dengan rate Rp 300.000 ,-/malam. Saya juga "curhat" soal breakfast hari pertama. Untungnya resepsionist tersebut mengembalikan uang selisih 2 malam tersebut. Hehehe...keuntungan cash untuk saya!
Ampun ya tuh resepsionist yang shift pagi? Kesannya tampang gue nggak mampu kali bayar rate kamar deluxe. Iiiih, sorry, Jack...untuk traveling aja saya biasanya stay di hotel berbintang. Kali ini aja dibayarin perusahaan, jadi saya harus tahu diri dikit-lah. Namanya juga gratisan, jadi dikasih hotel bintang 1 pasrah aja..
Fatal banget ya kesalahan Front Office Hotel yang menerima check in saya? Seharusnya dia profesional dalam melaksanakan tugasnya.

Wednesday, 26 January 2011

5 Days in Bandung : Taksi ...oh TAKSI!

Hari kedua di Bandung, euy! Kemaren maksudnyaaa....;-D Mewawancara 2 nasabah klien. Pertama di Pasirluyu dan berikutnya di Jl.Asia Afrika, depan Gedung Merdeka. Berangkat naik mobil dan driver-nya klien.Didampingin oleh Marketing-nya klien.
Saat lunchtime saya janjian dengan Hendra Veejay di Cihampelas Walk, memanfaatkan voucher hasil menjawab surver yang diadakan oleh Texas. Tetap aja harus mengeluarkan uang Rp 40an ribu...hehehe. Sengaja saya menghubungi Hendra agar dia bisa mem-backup tugas saya selama di Bandung. Target harus terkejar, dan saya percaya cowok yang satu ini bisa handle Indepht Interview. Hanya saja saya wanti-wanti agar dia berpenampilan layaknya seorang eksekutif. Yang harus dihadapi orang yang berani mengeluarkan uang minimal ratusan juta sekedar untuk "dimainkan"..hehe,bisnis high risk gitu deh!

Taxi & Tariff Taksi
Hari ini saya menghentikan taksi yang salah satu favorit di Jakarta, taksi biru tua berinitial P. Inget cerita saya kemarin khan, yang heran dengan petugas hotel yang tidak menghentikan taksi ini untuk saya?
Sopir taksi menyalakan argo dengan normal. Argo bergerak juga dengan normal. Lega-lah saya! Pudar sudah kekhawatiran saya terhadap buruknya pelayanan taksi di Bandung (sejak dulu!). Begitu sampai di Cihampelas Walk argo menunjukkan angka sekitar Rp 12 ribu-an. Saya menyodorkan uang Rp 15.000 ,- tanpa mengharapkan kembalian. Tetapi tiba-tiba sang sopir meminta pembayaran Rp 20.000 ,-. Menurutnya itu tarif minimum yang berlaku di Bandung. Haaaahhh??? Emang sih ngomongnya sopan, bahkan pakai kata maaf. Bagi saya sebenarnya juga gak keberatan mengeluarkan uang tersebut...taaapppiiiii...benar-benar "nggak banget" deh! Padahal berangkatnya saya naik taksi B yang tarif pertama-nya diatas tarif pertama taksi P dan GR (yang kemarin saya naiki) bayarnya nggak sampai Rp 20.000 ,-
Nah tadi siang saya naik taksi ke kantor klien dari Cihampelas. Taksi GR, memang sesuai argo dan angka di argo tidak sampai Rp 10.000 ,- dari Cihampelas sampai depan kantor klien, taaapppiiii...ditengah jalan sopirnya membuka kaca jendela besar-besar (jadi panas euy!) serta tuh sopir ogah muter alias saya diminta menyeberang jalan (jalan 2 arah) sendiri ke bangunan kantor klien. Alasannya sih pemutarannya jauh! Ckckck...jauh-pun paling tuh argo gak sampai 5 juta. Gue masih mampu bayar,Mang! ;-p

Hhmmm...benar ya quota saya di eve Magazine yang mencetuskan tentang kendaraan umum di Jakarta. Semakin cinta deh daku sama ibu kota negeri-ku yang sebenarnya masih aman dan tentram!

Monday, 24 January 2011

5 Days in Bandung : First Day

Pukul 7 pagi saya sudah bertolak dari rumah, dengan bajaj menuju Sales Counter Day Trans Shuttle Pulo Mas. Membayar tiket seharga Rp 70.000 ,- .Dalam perjalanan menuju Bandung saya duduk di seat 1 samping Driver yang sedang bekerja supaya lancar jalannya. Waw, asyik...seat-nya lega , kaca jendela dan depannya melepas pandangan - seakan saya duduk di dalam tabung kaca. Padahal si berada di Elf berwarna Oranye, tumben, biasanya merah.
Mampir beli bensin di Km 39 dan ke toilet Km 72 sampai di Bandung jam 10-an. Tepatnya di Dipati Ukur...lewat rumah keluarga Rian dan Ari. Dari Dipati Ukur saya dibantu petugas Day Trans menyetop angkot menuju Cihampelas. Berulangkali saya ke Bandung, tetapi baru kali ini datang ke Bandung sendirian. Turunlah saya pas di depan Hotel Cihampelas 1 yang sudah di-booking untuk saya selama 4 malam oleh perusahaan yang saat ini menugaskan saya mewawancarai nasabah klien-nya.

Client's Bandung Branch Office
SMS-SMSan dengan Mbak Devi yang menjadi PIC perusahaan klien.Ternyata Mbak Devi harus ke rumah sakit mengantar anaknya, jadi gak bisa menemui saya. Akhirnya jam 11an dengan mengendarai taksi GR yang distop oleh petugas hotel saya menuju kantor klien di Jl.HR.Juanda. Heraaan deh, waktu menunggu taksi khan ada taksi yang merupakan salah satu taksi favorit di Jakarta,tp petugas hotel tidak menyetopnya - menurutnya taksi tersebut tidak mau menggunakan argo! Loh????!
Sampai depan kantor klien argo belum menunjukkan angka Rp 10.000 ,- akhirnya saya suruh aja Mamang taksi-nya muter.
Di kantor klien yang terletak di Jl.Ir.H.Juanda saya ditemui oleh Branch Manager Bandung yang dengan full help menanyakan apa yang saya perlukan. Saya katakan saja bahwa saya perlu ditemani pihak Marketing pada saat wawancara dilakukan diluar kantor. Siang itu juga saya mewawancara nasabah clien yang sangat talkative dan informatif! Sebagai Interviewer Indept saya menyukai responden seperti ini ;-) Seusai wawancara di salah satu ruangan kantor tersebut saya menelpon 2 Marketing yang nasabahnya akan diwawancara siang ini, namun ternyata ke-2 nasabah tersebut reschedule. Yaaa suuuttraaa-lah saya kembali ke hotel , setelah menyusuri Jl.Dago dan membeli Cilok di dekat Jl.Dipati Ukur. Cihuy Cilok Bandung, jajanan paling enak di seluruh jagad ;-D Tukang Cilok-nya sampai melongo dagangannya saya borong gitu. Dapat bonus informasi berharga dari Tukang Cilok , yaitu informasi nomor angkot yang saya harus naiki untuk kembali ke hotel ;-)

Mini Facial @ Ristra House Cihampelas
Karena hanya mewawancara satu nasabah, siang itu saya kembali ke kamar hotel.SMSan dengan beberapa orang....en tercetuslah keinginan untuk memanfaatkan voucher mini facial yang diberikan oleh Mbak Lien beberapa bulan lalu. Kebetulan voucher berlaku di Ristra House Cihampelas Bandung. Mini Facial senilai Rp 60.000 ,- itu-pun saya manfaatkan. Jalan kaki dari hotel ...mungkin sekitar 300an meter. JJS plus mini facial. Lumayanlah, keluar dari Ristra House jadi terasa enteng...hehehe...kalau di Jakarta sulit dapetin waktu yang tepat.

Beli Ayam Texas @ Cihampelas Walk
Dari Ristra House Cihampelas, saya mampir ke Cihampelas Walk. Asli deh, baru sekali ini saya masuk ke Cihampelas Walk yang konsepnya emang tempat kongkow...Suasana-nya cozy, namun sayangnya nggak ada toko buku disana. Saya berniat membeli makanan untuk makan malam, asyiknya sih makanan khas Indonesia...tetapi dikarenakan melihat logo Texas Fried Chicken dan saya sudah lama tidak makan di fastfood tersebut, akhirnya saya malah beli Pak Eko + perkedel + chicken soup di Ciwalk deh ;-) Lagi - lagi dapat voucher 2 ayam goreng , tetapi berlaku dikunjungan berikutnya setelah kita mengisi survey-nya di internet.