Wednesday, 19 February 2014

[IRC 2014] Novel : Blackjack


http://1.bp.blogspot.com/-hmZnpJSSyOo/Uoga39OwN5I/AAAAAAAACbs/YvYiAnG8pN0/s1600/novel+black+jack.jpg
Saat Mencintai Seseorang Sama Dengan Berjudi
Judul Novel : Blackjack
Penulis : Clara Ng & Felice Cahyadi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Girang banget waktu menemukan novel dengan thema perjudian. Aaaah masa lalu....hahaha. Dunia Blackjack pernah akrab mewarnai masa lalu saya. Kalau lihat tampilan saya sekarang (atau bahkan dahulu) nggak ada yang percaya khaaaan? Makanya don’t judge the book by its  cover. Baca dong...baca setiap bab hingga mendalam :D Masih nggak percaya bahwa saya mantan penjudi??? Nanti deh ya saya perlihatkan membercard dari kasino terbesar di luar negeri sonoh (Huuus,  ini aib yang harus ditutupi!)
Tapiii sekarang saya sudah tobat kok! Lagipula saya kalau nge-bet di meja kasino nggak sampai tekor, kalau udah menang saya langsung ngeloyor. Bandar-nya sampai sebel sambil bersyukur kaliiii, bersyukur karena gak saya bikin tekor :D

99,9 % kisah ini (mungkin) pernah terjadi di tempat lain, pada zaman yang berbeda, pada dunia yang tak lagi sama.

Membaca novel ini memang seakan melempar saya ke masa lalu yang menurut saya konyol  namun penuh hikmah yang buaaanyak banget di dapat dan bertubi-tubi saya syukuri sampai detik ini. Novel yang terinspirasi dari kisah nyata. Sebelum membaca bab pertama buku ini maka kita akan membaca kalimat diatas. Ya, kisah seorang gadis muda – mahasiswi cantik dan baik hati yang kuliah di luar negeri bernama Ashlyn. Berpacaran dengan mahasiswa asal Indonesia. Si cowok ini punya hutang ngejublek.
Hutang Jaeed yang ngejublek dengan banyak mahasiswa Indonesia serta mahasiswa asing lainnya teramat sangat merepotkan Ashlyn, sang kekasih. Berulangkali Ashlyn ditipu dengan sandiwara ala drama oleh Jaeed. Dari alasan Jaeed memiliki masalah dengan chavas sampai harus dioperasi di rumah sakit. Bahkan Jaeed seringkali menggunakan nama Ashlyn untuk meminjam uang ke mahasiswa Indonesia lainnya.
Tetapi dasar Ashlyn yang cinta mati dengan cowok doyan judi ini, maka dia seringkali lari dari kenyataan – dalam artian walaupun beberapa kali dia melihat kenyataan namun alam sadarnya berusaha menyangkal kenyataan bahwa si cowok yang dicintainya banyak memanfaatkan dirinya.

Novel merupakan kolaborasi dari 2 penulis senior dan junior, Clara Ng dan Felice Cahyadi. Nulis resensi novel ini dari sudut teknis penulisan??? Hhhmmmm, apa sih yang kurang dari ilmu kepenulisan Cik Clara Ng? Barangkali sama dengan kita membacanya, mengalir, maka Penulis senior yang tulisannya sudah saya gemari sejak awal beliau menulis novel pertamanya menulis seakan tanpa guncangan – terus mengalir sehingga dalam sekejap saya sudah selesai membacanya. Penggunaan bahasa dalam novel ini juga membantu mengalirkan kita dalam membacanya, dikarenakan tidak ada catatan kaki dan tidak bercampur baur antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Total menggunakan bahasa Indonesia. Editingnya juga rapi.
Oh, barangkali 1 hal yang menjadi ganjalan saya pribadi, yakni saat bermain judi (khususnya Blackjack) di kasino. Di novel ini saya menangkap bahwa saat permainan berlangsung antara Ashlyn dan Jaeed saling berkomunikasi. Sedangkan yang saya alami selama bermain blackjack di kasino, para pemain tidak diperbolehkan berkomunikasi apabila salah satu atau keduanya duduk di “kursi resmi” meja selama permainan berlangsung.

Kisah ini bersetting 2 kota di Inggris, Newcastle dan London.Walaupun background tempat dari Newcastle dan London tidak tertulis secara detail saya sebagai pembaca tetap merasakan suasana negeri Lady Diana and Kate Midleton ini. Nggak masalah juga sih nggak secara detail menjelaskan mengenai tempat yang ada disono, toh buku ini bukan buku traveling :D
Yang jadi pertanyaan saya tentang telepon umum. Khan ada cerita tentang Ashlyn yang menunggu telepon dari sahabatnya, Adel. Daripada menunggu panggilan telepon berjam-jam dan “ngamuk” karena sambungan telepon terputus, kenapa Ashlyn tidak melakukan collect call saja?? (Hihihi...collect call merupakan kebiasaan saya saat mau menghubungi keluarga di Indonesia tetapi ogah beli phonecard/pulsa ! :p)
Sampul buku mengesankan novel terjemahan, bersetting Australia karena mirip-mirip Harbour Bridge gitu. Kalau di Inggris khan harusnya Big Ben yak?! Hhmmm, nanti saya googling lagi deh apakah di Newcastle terdapat Harbour Bridge semacam di Sydney atau Auckland.

Blackjack memberi warna lain bagi novel karya penulis Indonesia yang saat ini beredar. Tetap berthema romansa, kisah cinta sepasang manusia yang dilanda cinta. Walaupun demikian kisah ini juga membuka mata masyarakat Indonesia bahwa kenyataan kisah kelabu cinta tidak harus mengenai perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga or penganiayaan oleh pacar ,rebutan harta dan foya-foya. Jaeed yang suka berjudi tidak menggunakan uang yang di dapat dari menipu itu untuk berfoya-foya main perempuan atau narkoba. Feeling saya sih Jaeed sebenarnya memang cinta dengan Ashlyn kok, tetapi dia tidak cerdas strategi dalam berjudi saja (#eh!) .
Kisah novel ini juga memberi pandangan bahwa seorang penjudi bukan berarti harus menggunakan narkoba atau mabok-mabokan seperti yang ada di film-film Indonesia, karena di sebuah kasino resmi dipastikan memiliki aturan yang ketat. Untuk masuk ke kasino tersebut saja kita tidak diperkenankan membawa minuman keras atau benda berbahaya lain. Namun demikian bukan berarti pula “mengajarkan” ke pembaca bahwa “oke-oke aja loe pacaran sama penjudi”. (Loe boleh nekad pacaran sama penjudi yang di depan loe bersikap romantis dan perhatian, tapi loe mau gak uang kuliah en sewa kamar tempat loe berteduh kepakek untuk berjudi sampek loe jadi gelandangan di Inggris seperti Ashlyn?)
Pesan moral cerpen ini lumayan kuat kok, bagi saya pribadi juga membaca siratan di kisah ini, salah satunya adalah bahwa : Mencintai Seseorang atau sesuatu adalah sama dengan permainan judi. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi selanjutnya dalam kisah cinta kita. Demikian pula saat bermain judi di kasino kita tidak tahu di mana roulette atau slot machine akan berhenti, kita tidak tahu kartu apa yang akan diberikan ke kita oleh bandar dan kartu apa yang di pegang oleh bandar. Bahkan bandar-pun tidak mengerti kartu apa yang akan dia berikan ke pemain dan tidak mengerti pula kartu apa yang dia pegang. Semua-nya hanya Mahacinta yang mengetahui. Oleh karenanya mencintai Mahacinta dulu yuuuuk.... :D

Akhir cerita (barangkali) bagi sebagian orang akan berpendapat terkesan dipaksakan. Namun menurut saya hal itu mungkin saja terjadi kok, karena khan bisa saja Jaeed masih terus memantau keberadaan Ashlyn melalui sosial media. Hari gini gitu loh, kalau nyari orang berpendidikan pastinya melalui internet terlebih dahulu...hehehe.
Dah ya, saya bikin resensi-nya sengaja nggak “runut” , supaya kalian baca sendiri novelnya. Kalau saya bikin resensinya secara runut khan malah jadi spoiller...hehehe. (Anna R.Nawaning S , Twitter : @balqis57)

No comments:

Post a Comment